Share It

Sabtu, 28 Januari 2012

Harga Beras, Minyak dan Telur pun Naik

Harga beberapa jenis bahan pokok di pasar Botania Batam Centre melonjak. Seperti beras, telur dan minyak goreng.
Saat ini harga beras Arum merah di pasar botania naik hingga Rp7 ribu per karung isi 25 kilogram.
Yoga pedagang sembako di pasar  Botania Batam Centre mengatakan harga beras yang mengalami kenaikan hanya beras yang bermerek yang diimpor dari Thailand.
“Untuk beras, yang mengalami kenaikan hanya yang bermerek saja, beras yang biasa tidak ada kenaikan. Mungkin karena waktu itu Thailand banjir jadi beras naik,” katanya.
Selain beras, harga minyak goreng dan telur ayam juga mengalami kenaikan. Harga minyak goreng naik Rp2 ribu per kilogram menjadi Rp13 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp9 ribu per kilogram. Sedangkan harga telur saat ini mencapai Rp1.200 per butir dari harga sebelumnya hanya Rp1000 per kilogram. Di pasar MitraRaya bahkan ada yang menjual Rp1.400 per butir. Kenaikan ini kata Yoga sudah mulai naik sejak hari natal dan tahun baru beberapa waktu yang lalu.
“Kenaikan sudah terjadi saat natal kemarin, tahun baru hingga sekarang terus naik,” kata Yoga. 

Harga Beras Akan Melonjak Februari

Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan, mngungkapkan bahwa harga beras akan mengalami kenaikan pada bulan Februari mendatang.
Kenaikan harga beras sebenarnya sudah dimulai sejak awal Januari 2012.
Namun kenaikan harga beras pada Februari tak akan berlangsung lama. Seiring dengan deflasi yang diprediksikan pada Maret dan April, harga beras berangsur turun.
"Seperti tahun-tahun sebelumnya, Januari harga beras naik. Puncaknya bulan Februari dan terasa penurunan itu pada bulan Maret dan April," ujar Wamen Pertanian, di sela-sela Rakor di Kementrian Ekonomi, Selasa (24/1/2012).
Pengaruh kuat dari deflasi memberikan kontribusi kuat mengalahkan inflasi harga-harga di sektor pertanian.
"Kontribusi deflasi daripada perkembangan inflasi secara global , jadi semakin kuat pengaruhnya malah deflasi. Ya secara nasional begitu. Menurun harga pada Maret dan April," ungkap Wamen Pertanian.
Saat ini, harga beras di sejumlah pasar di berbagai wilayah mencapai Rp 7.500 hingga Rp 9.000 per kilogram (kg). Jika terjadi lonjakan, harga beras pada Februari bisa menyentuh Rp 10 ribu hingga Rp 10.500

Minggu, 15 Januari 2012

Realisasi Distribusi Raskin 100 Persen

BATAM - Kepala Sub Divre Perum Bulog Kota Batam, Marjoni Busjal menyatakan, realisasi distribusi beras miskin selama kurun waktu 2011 ini terealisasi mencapai 100 persen. Sampai saat ini, pihaknya tidak menemui persoalan dari distribusi raskin tersebut.

"Realisasi pembagian raskin ke lurah-lurah di Kota Batam periode Desember sudah 100 parsen. Hari ini (kemarin,red) terakhir penyaluran. Perbulannya Bulog menyalurkan 543,105 kg untuk 36.207 Rumah Tangga Sasaran (RTS)," ungkap Joni, Selasa (13/12) kemarin.

Dikatakanya, saat ini Bulog masih menyetok sebanyak 1.250 ton. Sebanyak 250 ton berada di gudang dan 1.000 ton lagi sedang dalam perjalanan dan diperkirakan akan sampai ke kota Batam sekitar 3 sampai 4 hari lagi. Beras ini katanya untuk keperluan operasi pasar.

"Beras tersebut sampai saat ini masih proses pemuatan di Pekanbaru, kemungkinan tiga sampai empat hari mendatang akan sampai di Batam tergantung cuaca, karena saat ini cuaca tidak menentu, jadi harus benar-benar dipastikan bahwa cuaca aman" jelas Marjoni Busjal.

Dikatakan, harga beras miskin yang didistribusikan Bulog dipatok Rp1.600 kg/kilo. Prosesnya disalurkan lewat lurah dan RT/RW. Selain itu, Bulog juga menggandeng pengecer untuk operasi pasar dengan harga eceran tertinggi (HET) mainland Rp6750 /kg dan hinterland Rp6950 /kg. Untuk operasi pasar pihaknya sudah menyalurkan 450 ton beras sejak Januari hingga Desember, yang terbagi dalam dua periode.

"Operasi pasar digelar untuk menekan harga beras dipasaran. Ketersediaan beras masih mencukupi," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Joni menambahkan, disampingi mendistribusikan beras miskin di Kota Batam, pihaknya juga menyalurkan raskin ke Karimun. Hingga Januari hingga Desember 2011 sudah terealisasi hingga 87,09 %  dengan jumlah raskin 1.834 ton . Sementara kebutuhan perbulannya 175 ton.

"Untuk stok Karimun di gudang ada 50 ton dan dalam perjalanan  600 ton. Jadi untuk wilayah Kota Batam dan Karimun tidak perlu khawatir tentang kekurangan beras raskin karena sampai saat ini stok masih aman," jelas Joni lagi.

Khusus, raskin ke-13 baik untuk Batam maupun Karimun akan segera disalurkan, menunggu SK Pagu dari Gubernur Kepri.

Sabtu, 14 Januari 2012

Harga Beras Sudah Tidak Bisa di Bendung, semakin melambung



Tahun 2012 lonjakan Harga Beras terus terjadi. Harga beras di tingkat pengecer di Banyumas, Jawa Tengah, terus melambung. Pemerintah kabupaten setempat minta gubernur segera menerbitkan aturan penyaluran beras untuk warga miskin (raskin) 2012.

Harga beras jenis IR 64 kelas medium yang semula diperdagangkan Rp8.000 per kilogram (kg), kini telah mencapai Rp8.500.

Jika sebelumnya rata-rata harga jual beras jenis IR 64 kelas medium dala kisaran Rp8 ribu per kilogram (kg), kini sudah ada yang menjual Rp8.500 per kg. Atas kondisi itu, Pemkab Banyumas telah mengirimkan surat ke Gubernur Jateng agar aturan pelaksanaan penyaluran raskin tahun 2012 segera turun.

Perlu Penguatan Operator Pangan


Wacana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pangan oleh kementerian BUMN terus mendapat dukungan terutama untuk menyediakan satu juta hektare lahan sawah baru hingga akhir 2014, karena lahan pertanian terus mengalami penyusutan.

Ketua Gabungan Asosiasi Pertanian Perkebunan Indonesia (Gapperindo) Agus Pakpahan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan, lahan pertanian di Indonesia mengalami penyusutan. Karena itu, peran negara untuk menyediakan lahan pertanian sebagai salah satu faktor produksi sangat penting.

Tetapi BUMN pangan yang dimaksud itu baru sebatas untuk kepentingan produksi, sementara lembaga operator pangan perlu dibentuk secara utuh, yang mencakup tugas-tugas produksi, distribusi, dan keamanan pangan, katanya.

Agus berharap, selain BUMN pangan yang bertugas mengurusi sektor produksi, perlu ada lembaga operator pangan yang mengurusi distribusi dan keamanan pangan.

Karena itu, lembaga operator ini sangat diperlukan untuk melakukan fungsi stabilisasi harga bahan pangan utama di tingkat nasional. Dengan demikian, ketersediaan pangan bisa terjamin, ucapnya.

Wacana pembentukan BUMN pangan mengemuka setelah Badan Ketahanan Pangan (BKP) bakal digantikan oleh Badan Otoritas Pangan (BOP).

Semula, BOP bakal berperan ganda sebagai regulator sekaligus operator. Tetapi konsep tersebut dikritisi oleh banyak pihak, termasuk para pakar dari perguruan tinggi.

Hal ini mengakibatkan tim perumus pemerintah memisahkan fungsi regulator dan operator dengan pembentukan BUMN pangan, maka tugas BOP murni sebagai regulator, sementara operator menjadi kewenangan BUMN Pangan.

Sistem logistik Sementara itu, pakar ekonomi pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar mengatakan yang terpenting adalah memperkuat sistem logistik dan distribusi pangan.

"Dalam hal ini, infrastruktur Perum Bulog mendesak dimodernisasi guna mengatasi permasalahan yang ada," ujar Hermanto, yang juga Wakil Rektor bidang Sumberdaya dan Pengembangan.

Hermanto menambahkan, Bulog sudah selayaknya diberi wewenang untuk menjalankan fungsi distribusi pangan, sekaligus mengemban misi stabilisasi harga dan mengelola stok nasional, terutama untuk komoditas pangan utama seperti beras.

Alasannya karena Bulog adalah BUMN Pangan terbesar yang memiliki infrastruktur paling lengkap dan paling luas jangkauannya. Kalaupun harus dibentuk lembaga operator yang bertugas untuk distribusi bahan pangan pokok dan stabilisasi harga, yang terdiri atas beberapa BUMN, maka Bulog layak menjadi pemimpinnya atau leader.

Hermanto sekaligus mengingatkan bahwa BOP harus terpusat dan menjadi wewenang pemerintah pusat di Jakarta. Dalam beberapa pasal di RUU Pangan disebutkan bahwa pemerintah daerah akan memiliki wewenang penuh untuk mengelola pangan.

Dia mengusulkan, agar pemerintah dan DPR merevisi pasal-pasal tersebut.

Kesenjangan Hermanto menilai, pemerintah akan sangat kesulitan melaksanakan kebijakan pangan karena sudah diserahkan ke setiap daerah. Begitu pula, jika pemerintah daerah bertindak sebagai otoritas pangan, justru akan menimbulkan kesenjangan yang semakin tajam antara daerah kaya dan miskin.

Pemda kaya bisa dengan mudah mengimpor beras, sebaliknya pemda miskin akan kesulitan memenuhi kebutuhan pangan warganya.

"RUU Pangan harus diperbaiki lagi demi keutuhan NKRI dan ketahanan pangan nasional," ujar Hermanto.

Senada dengan Hermanto, mantan sekretaris Menteri BUMN Said Didu menegaskan bahwa pangan pokok harus dilindungi oleh Negara, melalui lembaga negara yang mengurusi pangan.

Ia juga menyatakan, bahwa langkah tersebut tidak dilarang oleh Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organisation/WTO).

Memperkuat kelembagaan pangan, sangat penting, karena situasi saat ini sudah sangat berbeda dengan era orde baru. Terutama dengan adanya otonomi daerah, yang membuat urusan pangan tidak lagi sepenuhnya menjadi kewenangan Kementerian Pertanian.

"Untuk itu harus ada lembaga yang kuat mengurus kebijakan pangan, terutama pangan pokok," tutur Said Didu yang juga Ketua Ikatan Alumni IPB itu.

Said berharap, lembaga yang mengurusi pangan ini berada di bawah presiden langsung.

"Karena urusan pangan ini rawan disusupi oleh kepentingan politik," ungkapnya.

Lembaga tersebut harus didukung oleh operator yang memiliki wewenang penuh, mulai dari menyediakan sarana produksi pertanian semisal lahan, pupuk, irigasi, hingga distribusi, tambahnya.

Sulsel segera jual beras ke Batam


Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel Ilham Alim Bachrie mengatakan rencana tersebut adalah tindak lanjut dari pertemuan antara Kadin Sulsel dan Kadin Kepri, beberapa waktu lalu.

"Di Batam, konsumsi beras mencapai 15.000 ton per bulan. Sebanyak 5.000 ton akan kami suplai ke daerah tersebut dengan sistem perdagangan antarpulau," ujarnya kepada Bisnis.

Namun, karena belum adanya jalur pelayaran dari Makassar ke Batam maka rencana pengiriman beras tersebut akan dilakukan melalui Jakarta untuk kemudian dikirim ke Batam.

Adapun untuk merealisasikan rencana itu, dalam waktu dekat ini, Kadin Sulsel akan menandatangani kontrak kerjasama dengan Kadin Kepri.

"Untuk tahap awal, kami baru dapat mengirim dalam jumlah kecil, tetapi, tidak menutup kemungkinan di tahun-tahun berikutnya, kami akan mengirim beras dalam jumlah besar ke Batam dengan terus menambah jumlah pengiriman beras ke provinsi tersebut secara bertahap," paparnya.

Ilham, menambahkan, tidak akan terjadi kelangkaan beras serta kenaikan harga-harga beras, dengan perdagangan antarpulau tersebut, karena Sulsel telah surplus beras 2 juta ton. "Jadi tidak mungkin akan kekurangan," tegasnya.

Bahkan, perdagangan antarpulau tersebut diklaim Ilham akan mendorong perdagangan antara Sulsel dengan beberapa daerah lain di Indonesia sehingga akan menguntungkan Sulsel karena sudah memiliki pasar yang tetap.

Sembako Datang Sabtu Ini


KEPALA Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Natuna, Senagib mengatakan, persediaan sembako di Natuna akan kembali normal pada Sabtu (14/1). Perkiraan itu berdasarkan adanya beberapa kapal perintis, di antaranya kapal milik pengusaha sembako yang akan tiba di Natuna, Sabtu (14/1).
Dikatakan Senagib, sebebelumnya kapal perintis tersebut berlabuh di Letung beberapa hari sebelumnya, karena terhambat cuaca buruk dan gelombang laut tinggi di wilayah perairan Natuna.
”Saat ini kapal perintis KM Trigas dalam perjalan ke Sedanau Natuna dari Anambas. Kapal ini membawa persediaan sembako dari Tanjungpinang. Seperti, beras dan sembako lainnya termasuk telur. Tapi belum diketahui berapa jumlah sembako yang dibawa,” kata Senagib dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (11/1).
Selain menunggu KM Trigas kata Senagib, ada beberapa kapal barang dari Jakarta menuju Natuna. ”Kapal dari Jakarta disampaikan pengusaha sembako di Sedanau dan Ranai kepada kami. Di antara kapal-kapal itu ada kapal barang milik Robert. Diperkirakan Sabtu ini juga kapal itu merapat ke Ranai,” ujarnya.
Namun jika sampai beberapa hari ke depan kapal barang yang ditunggu itu tidak bisa merapat tepat waktu di Natuna, pemerintah katanya sudah berkoordinasi dengan TNI AU di Ranai, untuk mendatangkan sembako menggunakan pesawat.
”Sebenarnya persediaan sembako masih cukup beberapa hari lagi,” ujar Senagib.
Menurut Senagib, salah satu kendala pedagang saat untuk mendatang sembako adalah masih kurangnya sarana transporatasi barang dari luar daerah.
Sementara kapal pengganti KM Gunung Bintan yang baru beroperasi tidak bisa memuat barang lebih dari 50 ton, karena khusus mengangkut penumpang. Ditambah tarif yang diberlakukan sangat mahal.
”Kami berharap pemerintah provinsi lebih jeli, karena bantuan harus sesuai kebutuhan dan kondisi daerah perbatasan,” harapnya

Jumat, 13 Januari 2012

Antisipasi Krisis Pangan

KEPALA Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Natuna Hikmatul Arif mengatakan, pemerintah daerah memutuskan akan menggelar operasi pasar murni (OPM) di beberapa Kecamatan di Natuna.
Ada delapan kecamatan yang menjadi tempat operasi pasar murni. ”Berdasarkan hasil pertemuan dengan sejumlah camat, maka akan digelar operasi pasar murni ke delapan kecamatan,” ujar Nikmatul. Jika tidak dilakukan operasi pasar murni secepatnya, dikhawatirkan akan terjadi krisis pangan dalam waktu dekat ini di delapan kecamatan itu.
”Pak Bupati (Ilyas Sabli) selaku Ketua Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Natuna sudah menyurati provinsi agar ditindaklanjuti ke kementerian perdagangan untuk menggunakan cadangan beras pemerintah di gudang bulog Ranai dan Sedanau,” kata Hikmatul, Kamis (12/1).
Delapan kecamatan kekurangan pangan ini kata Hikmatul, diberikan jatah beras bervariasi. Dalam operasi pasar ini itu, Disperindag berkoordinasi dengan pedagang di kecamatan masing- masing. Pedagang-pedagang itu diminta menjual beras  dengan harga ditentukan pemerintah daerah.
Harga beras yang ditentukan pemerintah daerah katanya bervariasi di setiap kecamatan. Harga beras paling tinggi katanya Rp7 ribu per kilo.
Dikatakan Hikmatul, digelarnya operasi murni ini juga untuk antisipasi kenaikan harga beras yang dijual pedagang.
Operasi pasar murni merupakan langkah mengatasi ancaman krisis pangan yang disebabkan musim angin Utara. Apalagi berdasarkan laporan terakhir dari sejumlah pemilik kapal, katanya, kapal mereka belum bisa berlayar ke Natuna, karena terkendala cuaca buruk.
”Meski tidak dapat rekomendasi kementrian perdagangan RI, Operasi pasar ini akan tetap dilaksanakan ke kecamatan dalam dua hari kedepan, paling lambat Senin (17/1). ,” ujarnya.
Alasannya, karena stok beras di kecamatan hanya cukup beberapa hari lagi. Bahkan stok beras beberapa pedagang di Ranai sudah kosong. ***

Harga mulai naik, Bulog percepat penyaluran beras raskin

Dirut Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan jatah beras untuk rakyat miskin (raskin) dibagikan dua kali pada bulan ini, sehingga sepanjang 2012 sedikitnya akan ada 13 kali pembagian beras raskin.
 
“Saat ini memang terjadi gangguan suplai beras, harga cenderung naik dan berarti di lapangan memberatkan masyarakat berpendapatan rendah. Harga beras tidak boleh naik terus,” jelasnya, Rabu 11 Januari.
 
Sutarto mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan penyaluran beras raskin tersebut ke provinsi yang membutuhkan.
 
“Mekanismenya adalah dari Menko Kesra ke Gubernur, lalu ke Bupati, dan seterusnya,” paparnya.
 
Dia menuturkan gangguan suplai beras akan terjadi hingga Februari sehingga penaikan harga juga terjadi sampai bulan itu.

Pada Januari-Februari, katanya, memang masa paceklik sehingga juga membuat keadaan ekonomi petani, yang juga target beras raskin, menjadi berat.
 
Berdasarkan catatan Bisnis, subsidi beras raskin pada tahun ini sebesar Rp15,61 triliun dan Bulog bisa mengajukan tambahan anggara dalam APBN-P 2012. Tambahan anggaran itu bisa dipergunakan untuk mengantisipasi pembelian beras dan gabah dari petani dengan harga di atas HPP.
 
Adapun tahun lalu, Bulog menyalurkan beras raskin yang ke-13 pada Desember dengan volume mencapai 300.000 ton.
 
Sutarto mengatakan tidak tercapainya target produksi beras pada tahun lalu membuat semakin sulit keadaan saat ini.
 
“Tahun lalu target produksi beras tidak tercapai 1,6 juta ton sehingga diputuskan untuk melakukan impor diantaranya dari Thailand, India, dan Vietnam,” paparnya.
 
Dia menuturkan dari kontrak impor yang ditandatangani tahun lalu, pada bulan ini akan tiba beras sebanyak 500.000 ton, lalu Februari sebanyak 200.00 ton, dari India, Vietnam, dan Thailand.
 
Sutarto mengatakan saat ini belum ada lagi keputusan pemerintah untuk melakukan impor beras, karena Kementerian Pertanian optimistis produksi beras tahun ini bisa mencapai 72 juta ton atau naik 7 juta ton dibandingkan dengan 2011.
 
“Dengan target 72 juta ton itu,. kalau kondisi normal dalam artian tidak ada bencana alam dan penyaluran beras operasi pasar normal, Indonesia tidak perlu impor lagi,” paparnya.
 
Adapun pemerintah menargetkan agar Bulog pada akhir 2012 memiliki cadangan beras sebanyak 2 juta ton, atau lebih banyak 200.000 ton dibandingkan dengan 2011.
 
Sutarto pernah mengatakan bahwa pada tahun ini harga beras diprediksikan masih tetap tinggi dan sulit turun sesuai dengan harga pembelian pemerintah sehingga pengadaan beras oleh Bulog masih tetap sulit.

ACARA PISAH SAMBUT KASI AKUNTANSI DAN KA GUDANG GBB BATU AMPAR, SUB DIVRE BATAM


Kamis, 12 Januari 2012

Label Jelek Beras Bulog Merupakan Ulah Sejumlah Pedagang

PENILAIAN masyarakat akan kualitas beras yang dijual Perum Bulog kerap keliru. Banyak pandangan yang menggap beras yang disalurkan Bulog merupakan berasberas berkualitas rendah dan jelek dengan harga murah untuk kalangan masyarakat miskin (raskin). Padahal, sejatinya beras yang di tangan Bulog berkualitas baik. Label jelek yang selama ini ada merupakan ulah pada pedagang. ’’Beras bulog itu tak seperti beras 3-4 tahun yang lalu.
Kesannya beras Bulog itu kan jelek, sekarang tidak begitu. Bahwa sejak 2010 lalu kami sudah mulai melakukan perubahan cara berpikir, kalau dulu sigle kualitas sekarang multi kualitas. Bulog mengarah ke sana,” kata Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso saat berkunjung ke INDOPOS Selasa (20/12). Anggapan inilah, kata Sutarto, secara perlahan akan diubah.
Karena multi kualitas, maka beras yang dijual Bulog tak hanya beras dengan kualitas 20 persen, yang biasa disalurkan pada operasi pasar untuk raskin. Namun, Bulog juga memiiki beras dengan kualitas 5,10, dan 15 persen. Bervariasinya beras Bulog membuat masyarakat memiliki banyak pilihan. ’’Ini yang kita minta supaya jangan sampai ada monopoli-monopoli atau kartel-kartel di bidang perberasan,’’ ungkapnya.
Bahkan untuk pengadaan beras raskin, Bulog juga tak bisa sembarangan. Menurutnya, volume memang penting tetapi kualitas juga tetap menjadi prioritas. Tanpa mengutamakan kualitas pengadaan beras raskin kualitasnya bisa buruk. Sehingga dia mewant-wanti anak buahnya, pihaknya bakal menerapkan sanksi tegas bagi pegawainya yang bermain-main dalam menerima kualitas beras.
Sutarto mengaku, pusat penjualan beras di Pasar Induk Cipinang belakangan juga mengambil beras dari Bulog. Dari 370 ribu ton beras yang diserap secara nasional, sekitar 100 ribu ton diserap pedagang Pasar Induk Cipinang. Di Cipinang ini, terdapat rumah beras Bulog sebagai tempat untuk memudahkan penyaluran beras Bulog ke pasar-pasar.
Pada rumah beras Bulog disediakan dua merek yang dikeluarkan, yakni ‘Beras Kita’ dan ‘Berindo’. ’’Ini beras komersial Bulog,” ujarnya. Beras Bulog di gudang dihargai Rp 6.100 per kg hingga Rp 7 ribu untuk kelas premium. Dia mengungkapkan, beras Bulog dianggap beras berkualitas buruk oleh sebagian kalangan, itu ternyata hanyalah ulah sebagian pedagang yang terkena imbas dari operasi pasar yang dilakukan pemerintah.
Namun demikian, terkadang bukan hanya pedagang saja yang menolak operasi pasar Bulog. Pemerintah daerah juga ada yang menolak Bulog menyalurkan raskin, seperti yang terjadi di Jawa Timur. Pemda berbeda-beda, ada yang ketika Bulog menawarkan operasi, mereka langsung mengiyakan, tapi ada juga yang menolaknya. Menghadapai situasi demikian, Sutarto menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. ’’Kasus seperti ini menang sulit, tapi bagi kami itu challenge,” katanya

Beras Bulog Rp6.750 Per Kg

(Bulog) Sub Divre Batam akan menjual beras milik  mereka dengan harga murah untuk menandingi naiknya harga beras di pasaran, sebulan  terakhir. Kepala Bulog Sub Divre Batam, Marjoni Busjal, mengatakan beras Bulog yang  dijual ini bisa diantar langsung sampai ke tempat tujuan.
“Untuk kawasan pulau-pulau di hinterland beras Bulog dijual Rp6.950 per kilo. Sedangkan  untuk di perkotaan dijual Rp6.750 per kilo. Perbedaan Rp200 per kilo itu untuk menutupi  biaya angkut ke pulau-pulau,” kata Marjoni, Kamis (10/11).
Siapa pun, kata dia, bisa membeli beras Bulog tersebut langsung ke Kantor Bulog Batam di  Pelita dan diantar langsung sampai tujuan. Stok beras Bulog Batam, kata Marjoni, saat ini  cukup memadai dan terkendali secara nasional. “Juga ada beras kita yang masih dalam  perjalanan. Jadi stok beras Bulog sangat cukup,” ucap Marjoni.
Berdasarkan pantauan bersama yang dilakukan Bulog bersama Dinas Perindustrian dan  Perdagangan Kota Batam, kata Marjoni, ada kenaikan harga beras. Kenaikan itu  dipengaruhi oleh bencana banjir di Thailand yang melanda sentral produksi beras di negara  tersebut. Sebagian beras yang dikonsumsi masyarakat Kepri berasal dari Thailand.
“Selain melakukan intervensi pasar, Bulog juga telah siap melakukan percepatan  pendistribusian beras raskin. Percepatan penyaluran raskin itu dilakukan untuk meredam  kenaikan harga beras,” ujarnya.
Marjoni mengatakan, saat ini pendistribusian raskin Januari sampai Desember 2011 telah  terealisasi sekitar 90 persen. Raskin Desember, jelasnya, sudah mulai didistribusikan  November. Alokasi raskin untuk Kota Batam dari Januari sampai Desember sebanyak 5.430  ton per tahun dengan rumah tangga sasaran (RTS) rutin penerima raskin 36.207 RTS

Pemkot Batam Butuh Tambahan Cadangan Beras

Pemerintah Kota (Pemkot) Batam berharap kementerian perdagangan memberikan kebijakan akses ringan bagi impor beras baik dari Thailand maupun Vietnam, agar ketersediaan stok beras berimbang dengan kebutuhan konsumsi masyarakat Batam yang kini mencapai 1,2 juta penduduk.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral Pemkot Batam, Ahmad Hijazi di Batam, Senin (4/7) menjelaskan, ketersediaan stok beras per hari di Batam saat ini berkisar 10 ribu ton perhari. Jumlah itu memang saat ini

masih dianggap memadai untuk pemenuhan konsumsi masyarakat.

Meski demikian, Hijazi mengaku tetap mendorong diterbitkannya akses ringan bagi Batam untuk dapat mengimpor beras, sehingga mampu menekan indikasi kenaikan harga beras yang diprediksi mampu mencapai 10% lebih dalam pekan ini. Baginya jika kebijakan impor beras tak kunjung positif, dipastikan kenaikan beras dengan selisih Rp 600 hingga Rp 700 tak dapat dielakan lagi.

Selama ini, Hijazi mengemukakan pasoka beras di Batam mayoritas disokong dari pusat beras, Pasar cipinang, Jakarta. Hal tersebut, lanjutnya tentu saja membuat ketergantungan harga beras terhadap harga grosir Cipinang sangat berat.

"Impor beras yang bisa menghalangi rencana kenaikan beras pekan ini. Kami (Pemko) juga sudah menyurati kementerian perdagangan soal ini (impor beras)," katanya.

Banjir Thailand Jadi Pemicu Naiknya Harga Beras


Kenaikan harga bahan pokok seperti beras tampaknya sulit dihindari. Musim paceklik di daerah penghasil serta banjir di Thailand menjadi salah satu pemicu.

Kenaikan akan terasa di akhir tahun hingga awal 2012 mendatang. Namun kenaikan ini juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Kepala Disperindag ESDM Kota Batam, Ahmad Hijazi mengatakan saat ini kenaikan beras sudah sekitar Rp 5-10 ribu per karung.

"Saya sudah cek ke Pasar Induk Cipinang, memang terjadi kenaikan Rp 5-10 ribu per karung. Saya perkirakan hingga awal 2012 nanti masih akan terus mengalami kenaikan. Kenaikannya bisa sekitar Rp 5 ribu per karung," kata Hijazi di Baloi.

Ia mengatakan 90 persen kenaikan harga beras di Batam dipengaruhi persediaan secara nasional. Karena Batam merupakan daerah yang nol produksi. Sehingga pemenuhan kebutuhan daerah kepulauan ini juga sangat tergantung daerah penghasil.

Hijazi menjelaskan saat ini secara nasional sedang musim paceklik maka kenaikan tidak dapat dihindari. Sedangkan untuk impor, tidak bisa dilakukan karena saat ini sedang terjadi banjir di beberapa negara penghasil seperti Thailand.

"Walaupun Batam tidak impor langsung, tapi kenaikan tahun ini juga  dipengaruhi oleh banjir Thailand yang akibatkan pembatalan ekspor beras oleh Thailand ke Indonesia," jelas Hijazi.

Meski mengalami kenaikan, pemerintah jamin persediaan beras di Batam cukup hingga akhir tahun. Saat ini persediaan beras di Batam masih  20.000 ton lebih.

"Sampai akhir tahun tidak akan ada masalah," ungkap Hijazi.

Seorang pedagang di pasar tradisional mengatakan kenaikan harga beras sudah terjadi sejak satu bulan terakhir. Besar kenaikan bervariasi antara Rp 5-12 ribu per karung. Kenaikan terjadi di hampir seluruh jenis beras baik dalam negeri maupun impor dari Thailand.

HARGA BERAS DI BATAM DIPERKIRAKAN TERUS NAIK

Dinas Perindustrian Perdagangan Energi Sumber Daya Mineral Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau memperkirakan harga beras di kota tersebut masih akan terus mengalami kenaikan hingga awal 2012.

"Saat ini kenaikan sudah sekitar Rp5.000-Rp10.000 per karung untuk semua kualitas. Saya perkirakan hingga awal 2012 nanti masih akan terus mengalami kenaikan," kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindag dan ESDM) Kota Batam, Ahmad Hijazi di Batam, Jumat.

Sebagai daerah "zero" produksi, lanjutnya, sekitar 90 persen kenaikan harga beras di Batam dipengaruhi oleh persediaan secara nasional.

"Pemenuhan kebutuhan beras di Batam sangat tergantung dari daerah lain dan beras impor. Karena saat ini secara nasional sedang paceklik maka kenaikan tidak dapat dihindari. Saya sudah melakukan pengecekan ke Pasar Induk Cipinang dan memang terjadi kenaikan Rp5.000-Rp10.000/karung," kata dia.

Selain itu, Hijazi menambahkan, banjir yang terjadi di Thailand juga mempengaruhi harga beras di Batam, karena rencana impor pemerintah batal.

"Walaupun Batam tidak mengimpor langsung dari Thailand, namun kenaikan tahun ini juga dipengaruhi oleh banjir yang melanda Thailand yang mengakibatkan pembatalan ekspor beras oleh Thailand pada Indonesia," kata dia.

Disperindag menjamin persediaan beras di Batam mencukupi hingga akhir tahun, meskipun harganya terus mengalami kenaikan .

"Persediaan di Batam saat ini masih sekitar 20.000 ton lebih. Sampai akhir tahun tidak akan ada masalah," kata dia.

Pedagang di Pasar Tradisional Kota Batam mengatakan kenaikan sudah terjadi sejak satu bulan terakhir.

"Beras mengalami kenaikan bervariasi dari Rp5-12 ribu/karung sejak sekitar satu bulan yang lalu," kata pedagang sembako Pasar Mitra Raya, Sulaiman.

Sulaiman mengatakan, kenaikan terjadi pada beras produksi dalam negeri dan impor asal Thailand.

Batam Mendapat Jatah Raskin 543 Ton

Kota Batam mendapat pagu alokasi program bantuan beras untuk rumah tangga miskin (raskin)  bulan Januari – Mei 2012 sebanyak 543 ton untuk 36.207 rumah tangga sasaran, baik yang berada di daerah Mainland maupun Hinterland, besaran pagu raskin ini tidak ada perubahan dari tahun sebelumnya.
Kepala Bulog Kota Batam Marjoni Busjal mengatakan hari ini, Kamis (12/1) bahwa untuk  Juni sampai dengan Desember akan disampaikan pada April 2012 penyaluran tersebut mengacu pada surat dariMenteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono.
Untuk alokasi penetapan pagu Raskin ini berdasarkan  pendataan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) namun demikian sebagai bahan pertimbangan pihaknya tengah membentuk tim agar penerimaan Raskin lebih tepat sasaran.
Marjoni Busjal menambahakpenyaluran tersebut akan dilakukan januai ini untuk alokasi sampai Februari mengingat wilayah ini terdiri dari banyak pulau. Sementara itu realisasi tahun 2011 lalu dari januari hingga desember tersalurkan 100% . Disamping Bulog menangani wilayah Batam, Bulog Batam juga menyalurkan raskin ke Karimun dari Januari hingga Desember 2011 sudah terealisasi hingga 87,09 %  dengan jumlah raskin 1.834 ton, sementara kebutuhan perbulannya 175 ton. Harga beras miskin sampai titik distribusi bulog  mematok harga Rp1.600 kg/kilo. Prosesnya disalurkan melalui lurah dan RT/RW,  dengan kuaalitas beras medium.